SERVICE STRATEGY DAN SERVICE DESIGN

Apa itu Service strategi?

SERVICE STRATEGI Layanan Strategi adalah tahap pertama dari ITIL Service Management Lifecycle. Ini adalah poros di mana siklus berputar. Fase ini digunakan untuk menetapkan strategi keseluruhan untuk layanan TI yang direncanakan organisasi dan manajemen layanan (ITSM) praktek. Ini memuncak dalam rencana strategis yang menentukan bagaimana layanan TI yang direncanakan organisasi dan kebijakan dan proses ITSM akan digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Layanan Strategi fase membantu memastikan bahwa organisasi siap untuk mengelola biaya dan risiko yang terkait dengan memulai layanan-layanan baru. Dalam fase ini, organisasi melakukan hal berikut:. Tentukan ruang pasar untuk layanan TI yang direncanakan. Menetapkan harapan kinerja untuk melayani pelanggan. Mengidentifikasi, memprioritaskan, dan pilih peluang. Mengembangkan kebijakan, pedoman, dan proses yang akan digunakan untuk mengelola layanan TI

Service Strategy (Strategi Layanan) juga salah satu publikasi inti IT Infrastructure Library (ITIL) framework yang digunakan di dalam penerapan IT Service Management (ITSM). Dari judulnya, buku pertama ITIL ini bertujuan untuk memberikan panduan tentang pentingnya bagi semua organisasi untuk menyelaraskan strategi bisnis yang didefinisikan dengan baik dengan strategi ICT yang efektif.

Organisasi yang ingin menerapkan ITSM seharusnya memikirkan strategi yang dibutuhkan di dalam memberikan layanan untuk pelanggan seperti menetapkan visi, tujuan, kebijakan, persyaratan dan target untuk tahap siklus proses dan fungsi yang di dalam buku ITIL berikutnya yaitu Service Design, Service Transition & Continual Service Improvements.

Dengan semakin banyaknya organisasi-organisasi yang ingin menerapkan ITSM langsung dengan tools, banyaklah pula kendala yang diketahui sewaktu implementasi tools. Mengapa? Karena secara sederhana, strategi akan memutuskan dan membenarkan layanan apa yang akan diberikan kepada siapa, kapan, dengan cara apa dan dengan biaya berapa – dimana informasi ini mudah untuk dikatakan, tetapi jauh lebih kompleks untuk dicapai.

Ketika ITIL pertama kali diperkenalkan pada akhir 1980-an, ITIL terkonsentrasi pada area operasional seperti yang ada di buku Service Operations dikarenakan itu adalah fokus utama di waktu tersebut. Meskipun ITIL secara bertahap sudah berevolusi menjadi siklus, mengapa sampai sekarang di dalam penerapan ITSM, proses dan fungsi masih dimulai dengan Service Operations dan tidak dengan Service Strategy?

Manajemen menginginkan 2 peran utama ITIL tersebut karena setiap organisasi harus mempunyai cara untuk mengelola insiden production meskipun dengan cara sederhana seperti mendelegasikan seseorang untuk pergi ke tempat pelanggan dan memberikan resolusi. Intinya setiap masalah harus bisa diselesaikan secepatnya untuk mengembalikan operasional bisnis. Dengan inilah, Service Strategy tidak menjadi prioritas di dalam penerapan ITSM.

ITSM (Information Technology Service Management, Manajemen Layanan Teknologi Informasi) adalah suatu metode pengelolaan sistem teknologi informasi (TI) yang secara filosofis terpusat pada perspektif konsumen layanan TI terhadap bisnis perusahaan. ITSM merupakan kebalikan dari pendekatan manajemen TI dan interaksi bisnis yang terpusat pada teknologi. Istilah ITSM tidak berasal dari suatu organisasi, pengarang, atau pemasok tertentu dan awal penggunaan frasa inipun tidak jelas kapan dimulainya.

 

ITSM berfokus pada proses dan karenanya terkait dan memiliki minat yang sama dengan kerangka kerja dan metodologi gerakan perbaikan proses (seperti TQM, Six Sigma, Business Process Management, dan CMMI). Disiplin ini tidak memedulikan detail penggunaan produk suatu pemasok tertentu atau detail teknis suatu sistem yang dikelola, melainkan berfokus pada upaya penyediaan kerangka kerja untuk menstrukturkan aktivitas yang terkait dengan TI dan interaksi antara personel teknis TI dengan pengguna teknologi informasi.

 

ITSM umumnya menangani masalah operasional manajemen teknologi informasi (kadang disebut operations architecture, arsitektur operasi) dan bukan pada pengembangan teknologinya sendiri. Contohnya, proses pembuatan perangkat lunak komputer untuk dijual bukanlah fokus dari disiplin ini, melainkan sistem komputer yang digunakan oleh bagian pemasaran dan pengembangan bisnis di perusahaan perangkat lunak-lah yang merupakan fokus perhatiannya. Banyak pula perusahaan non-teknologi, seperti pada industri keuangan, ritel, dan pariwisata, yang memiliki sistem TI yang berperan penting, walaupun tidak terpapar langsung kepada konsumennya.

 

Sesuai dengan fungsi ini, ITSM sering dianggap sebagai analogi disiplin ERP pada TI, walaupun sejarahnya yang berakar pada operasi TI dapat membatasi penerapannya pada aktivitas utama TI lainnya seperti manajemen portfolio TI dan rekayasa perangkat lunak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

APA ITU SERVICE DESIGN?

Service design adalah transformasi dari service strategy menjadi tahapan-tahapan untuk memberikan pelayanan terhadap pengguna layanan. Service design memberikan penduan kepada organisasi IT untuk dapat secara sistemaITSdan best pracITce mendesain dan membangun layanan IT maupun implementasi ITSM itu sendiri.

Desain layanan bertujuan untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa layanan baru akan melakukan seperti yang direncanakan dan disampaikan fungsi dan manfaat dimaksudkan oleh bisnis. Prinsip ini adalah jantung dari pendekatan ITIL dan mengapa sebagian besar proses desain layanan difokuskan pada pengendalian operasional:

  • Manajemen Katalog layanan;
  • Manajemen tingkat layanan;
  • Manajemen kapasitas;
  • Koordinasi Desain;
  • Manajemen Ketersediaan;
  • IT manajemen kelangsungan pelayanan;
  • Manajemen keamanan informasi;
  • Manajemen Pemasok.

Pengendalian operasional adalah proses pemantapan agar kegiatan operasional dilaksanakan secara efektif dan efisien. Pengendalian operasional menggunakan prosedur dan aturan keputusan yang sudah ditentukan lebih dahulu. Sebagian besar keputusan bisa diprogramkan. Beberapa contoh di bawah ini menggambarkan jenis dukungan keputusan yang dapat dibuat dalam sistem pengendalian operasional :

 

  1. Suatu transaksi penarikan kembali sediaan menghasilkan suatu dokumen transaksi. Pengolahan transaksi juga dapat menyelidiki persediaan yang ada, dan memutuskan apakah suatu pesanan pembelian sediaan harus diadakan.
  2. Suatu pemeriksaan terhadap file pegawai menjelaskan keperluan untuk suatu posisi. Komputer menyelidiki file pegawai menggunakan program untuk memilih kandidat secara kasar.
  3. Laporan rutin dihasilkan secara periodik. Tetapi suatu aturan keputusan yang diprogramkan dalam suatu prosedur pengolahan laporan bisa menciptakan laporan khusus dalam suatu bidang masalah. Contoh : suatu analisis pesanan yang masih belum dilayani setelah 30 hari.

Kontribusi yang tahap desain layanan dari siklus hidup membuat karenanya dapat diringkas sebagai menjamin terciptanya layanan hemat biaya yang menyediakan tingkat kualitas yang diperlukan untuk memuaskan pelanggan dan stakeholder seluruh kehidupan layanan.Namun, fakta bahwa kebutuhan bisnis berubah dari waktu ke waktu dan menghasilkan kebutuhan atau kesempatan untuk perbaikan lebih lanjut, berarti bahwa bahkan sebuah organisasi dengan proses desain layanan dewasa akan perlu untuk membuat perubahan pada layanan sepanjang hidup mereka. Oleh karena itu desain layanan memiliki peran penting untuk bermain dalam mendukung peningkatan pelayanan terus-menerus dan sama pentingnya untuk mengelola perubahan layanan yang ada seperti di merancang layanan baru. Dalam hal ini, desain layanan juga harus mempertimbangkan dampak dari kegiatannya pada keseluruhan layanan, sistem, arsitektur, alat-alat dan pengukuran untuk meminimalkan potensi gangguan ketika layanan baru atau diubah diperkenalkan ke lingkungan hidup.

 

 

 

 

SERVICE MANAGEMENT DAN ITIL (Information Technology Infrastructure Library)

MANAJEMEN PELAYANAN

Apa itu Management service/manjemen pelayanan? Manajemen pelayanan atau Mangement Service adalah seperangkat kemampuan organisasi khusus untuk memberikan hasil kepada pelanggan dalam bentuk layanan. “Kemampuan Khusus Organisasi” ini meliputi proses, kegiatan, fungsi dan peran yang menggunakan penyedia layanan dalam memberikan layanan kepada pelanggan mereka, serta kemampuan untuk membangun struktur organisasi yang cocok, mengelola pengetahuan dan memahami bagaimana memfasilitasi hasil yang menciptakan nilai.

Meskipun tidak ada definisi tunggal profesi, profesi diterima secara luas bahwa kata profesi berlaku di mana sekelompok orang berbagi standar umum dan disiplin berdasarkan tingkat tinggi pengetahuan dan keterampilan, yang diperoleh dari skema pendidikan terorganisir didukung oleh pelatihan melalui pengalaman dan diukur dan diakui melalui kualifikasi formal. Selain itu, profesi berusaha untuk menggunakan pengaruhnya melalui pengembangan pedoman praktik yang baik dan saran dalam rangka meningkatkan standar kinerja di bidang yang diberikan.

Manajemen layanan memiliki hak yang jelas untuk menganggap dirinya sebagai sebuah profesi, dan latihan disiplin manajemen pelayanan sebagai praktek profesional dilakukan dan didukung oleh komunitas global ditarik dari semua sektor pasar. Ada tubuh yang kaya pengetahuan dan pengalaman termasuk skema formal untuk pendidikan individu.

 

ITIL (Information Technology Infrastructure Library)

Apa itu ITIL? ITIL adalah Information Technology Infrastructure Library yang merupakan sebuah kerangka kerja atau konsep yang menggambarkan praktek terbaik dalam manajemen layanan teknologi informasi (TI)  dan berfokus pada pengembangan dan pengukuran yang terus menerus terhadap kualitas dari layanan IT yang diberikan baik terhadap bisnis atau pelanggan. Fokus dari I.T.I.L sendiri ialah memberikan kontribusi dan keuntungan dalam menjalankan teknik-teknik dan proses-proses pada organisasi.

Tujuan Information Technology Infrastructure Library (I.T.I.L) adalah untuk menyediakan petunjuk untuk praktek terbaik dalam manajemen layanan teknologi informasi. Ini mencakup pilihan yang dapat diapdopsi dan diadaptasi oleh organisasi berdasarkan kebutuhan bisnisnya, keadaan, dan kedewasaan dari penyedia layanan.

Perkembangan I.T.I.L juga udah mengalami banyak perubahan seiring berjalan nya waktu. Pada awal perkembanganya, I.T.I.L terdiri dari kurang 40 publikasi yg terbagi kedalam modul-modul terpisah, setelah itu untuk simplikasi serta kemudahan implementasi  I.T.I.L  dibagi  dalam 7 domain yg saling berhubungan dan dapat berdiri sendiri. Perkembang fase ini disebut juga dengan I.T.I.L versi 2, domain service support dan service delivery dijadikan  sebagai  CORE atau otak dalam tata kelola teknologi informasi atau IT Service Management.

Keuntungan yang diperoleh dari I.T.I.L adalah bisnis yang lebih kompetitif diantaranya dengan meningkatnya kepuasan dan pelayanan nasabah, meningkatnya availability dan reliability dari pelayanan IT, meningkatnya roles dan responsibilities dari organisasi IT, menghubungkan IT dengan bisnis dan bisnis dengan IT.

 

source : http://adriadi29.blogspot.co.id/2016/03/apa-itu-itil.html

TUGAS SOFTSKILL CARA KERJA DRONE

Cara kerja Drone

Cara kerja drone yang akan kita bahas ini adalah untuk drone yang di pasarkan untuk kalangan umum. Jadi mungkin ini akan berbeda jika cara pandang kita adalah drone untuk keperluan militer.

Drone yang sering kita lihat di beberapa tempat umum ini memiliki ukuran yang tidak begitu besar dan lebih mirip seperti mainan anak-nak yaitu helicopter yang menggunakan remote. Sebenarnya memang mirip jika melihat cara kerja yang sederhana namun drone memiliki kerumitan dan harga yang jauh berbeda dari segi pembuatan.

Jika mainan anak-anak atau bagi kamu yang hobi aero medelling  menggunakan pesawat mini berbahan bakar bensin atau batrey yang lainnya di kendalikan menggunakan remote contol drone pun demikian. Bedanya drone menggunakan jarak radio yang lebih luas sekitar 2,4 GHz.

Selain itu drone dapat di control menggunakan smartphone karena drone memiliki chip komputer serupa arduino namun lebih kompleks. Chip ini membuat drone dapat mengolah gambar dari kamera yang terpasang padanya kemudian mengirimkan hasilnya ke smartphone yang digunakan sebagai control.

Seperti apa bentuknya jika di smartphone? mirip aplikasi dan memang aplikasi namun bawaan dari merek drone itu sendiri kecuali kamu merakitnya sendiri maka kamu harus mencari penyedia dari pihak ketiga atau membuat programnya sendiri.

Gambar yang di kirimkan oleh chip drone adalah real time dan kamu bisa mengatur resolusi sesuai spesifikasi dronne, mengarahkan kemana drone itu akan pergi belok kanan dan kiri seesuai dengan tampilan video yang dikirimkan. Cara mengendalikannya pun mirip saat kamu memeinkan game race pada gadget, kamu hanya perlu menggunakan telunjuk dan mengarahkan ke kiri atau kekanan. Kamu juga bisa mengatus apakah video atau foto yang akan kamu ambil.

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana dengan GPS?

Beberapa drone mahal delengkapi dengan chip GPS. Cara kerjanya adalah sebelum terbang harus di pastikan dapat sinyal GPS terlebih dahlu dan ada batas minimal sinyal yang didapatkan untuk drone bisa terbang.

 

Kenapa ada batas minimal?

Drone yang akan di terbangkan menggunakan GPS benar-benar tergantung dengan kekuatan sinyal GPS. Karena drone yang di terbangkan dengan GPS tidak terikat jarak antara pilot dengan drone, so dimanapun kamu berada drone akan tetap terbang sesuai perintah kamu.

Kok bisa?

Disitu ada perantara yaitu satelit GPS. Kamu mengirimkan data ke satelit dan satelit mengirimkan data ke drone. Itu kenapa sinyal harus kuat atau jika tidak drone kamu akan hilang selamanya bisa juga lost control. Ini adalah masalah besar dan itu sudah di pikirkan oleh para pencetus drone. Jika tidak, tentu drone tidak akan populer seperti sekarang.

Drone dengan kemampuan GPS sudah di wajibkan untuk dilakukan setting home base (tempat pulang ) melalui koordinat sesuai keinginan kamu. So… drone akan kembali ke rumah jika hilang kontak atau perhitungan batrey pada jarak tertentu tidak akan cukup untuk kembali ke koordinat rumah. Woow, cukup pintar.

Keuntungan lain dari GPS yang dimiliki bagi fotographer adalah kamu bisa menentukan auto fly dan record pada titik koordinat tertentu. Jadi kamu tidak perlu mengawasi drone dan kamu bisa berkonsentrasi untuk berpose dengan sempurna.

 

TUGAS ILMU SOSIAL DASAR 9 PRASANGKA, DISKRIMINASI, DAN ETNOSENTRISME

PRASANGKA DISKRIMINASI DAN ETNOSENTRISME

 

mind map bab 10

1.PERBEDAAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI

Sikap  yang  negatif  terhadap   sesuatu,   disebut   prasangka.   Walaupun   dapat kita  garis  bawahi  bahwa  prasangka   dapat  juga  dalam   dalam   pengertian   positf. Tulisan   ini  lebih  banyak   membicarakan   prasangka    dalam    dalam    pengertian negatif.Tidak    sedikit   orang-orang  yang  mudah  berprasangka,    namun  banyak juga   orang-orang   yang   lebih   sukar   untuk   berprasangka.      Mengapa    terjadi perbedaan  cukup  menyolok? Tampaknya   kepribadian    dan  intelekgensia,    juga faktor   lingkungan    cukup   berkaitan   dengan   munculnya  prasangka.

Namun    demikian  belum   jelas    benar   ciri-ciri    kepribadian   mana   yang membuat   seseorang   mudah   berprasangka.    Sementara   pendapat   menyebutkan bahwa    orang    yang   berintelekgensi       tinggi,     lebih    sukar    untuk    bersikap berprasangka.    Mengapa?   Karena  orang-orang    macam  ini  bersifat  dan bersikap kritis.   Tetapi   fakta-fakta    dalam    kehidupan     sehari-hari    menunjukkan  bahwa mereka  yang  tergolong   dalam jajaran  kaum  cendekiawan,    juga  para  pemimpim dan   negarawan    juga   bisa   berprasangka.     Bahkan    lahirnya    senjata-senjata antarbenua    (Inter   Continental    Balistic   Missile   –   ICBM)   adalah   suatu   buah pransangka    yang  berlebihan    dari  para  pemimpin,    negarawan    negara-negara adikuasa  (superpower)?   Bukankah   pemasangan   rudal-rudal  jarak  pendek  milik Amerika  Serikat  di daratan  Eropa  Barat  adalah  suatu  manifestasi  dari prasangka Amerika   Serikat   terhadap    rivalnya   yaitu   Uni  Sovyet?   Kondisi   lingkungan/ wilayah   yang  tidak   mapan   pun  cukup   beralasan    untuk   dapat   menimbulkan prasangka   suatu   individu   atau  kelompok  sosial    tertentu.

Dalam   kondisi    persaingan    untuk   mencapai    akumulasi   materiil   tertentu, atau   untuk   meraih   status     sosial     bagi    suatu   individu    atau   kelompok  sosial tertentu,   pada  suatu  lingkungan/wilayah   di mana  norma-norma   dan  tata hukum dalam   kondisi  goyah,  dapat  merangsang   munculnya   prasangka  dan diskriminasi dapat    dibedakan       dengan    jelas. Prasangka     bersumber     dari    suatu    sikap. Diskriminasi     menunjuk   kepada   suatu  tindakan.   Dalam   pergaulan    sehari-hari sikap     berprasangka      dan   diskriminasi      seolah-olah      menyatu,     tidak   dapat dipisahkan.

Sikap   berprasangka    jelas   tidak   adil,   sebab   sikap   yang   diambil    hanya berdasarkan    pada  pengalaman    atau  apa  yang  didengar.   Lebih-lebih    lagi  bila sikap   berprasangka     itu  muncul   dari  jalan   fikiran   sepintas,    untuk   kemudian disimpulkan   dan dibuat  pukul  rata  sebagai  sifat  dari  seluruh  anggota  kelompok sosial   tertentu.   Apabila   muncul   suatu   sikap  berprasangka    dan  diskriminatif terhadap   kelompok    sosial   lain,   atau  terhadap   suatu   suku  bangsa,   kelompok etnis  tertentu,   bisa  jadi   akan  menimbulkan    pertentangan-pertentangan       sosial yang  lebih  luas.   Suatu  contoh:   beberapa   peristiwa   yang  semula   menyangkut berapa   orang   saja,   sering   menjadi    luas,   melibatkan    sejumlah    orang.    Akan menjadi   lebih  riskan   lagi  apabila   peristiwa   itu  menjalar   lebih  luas,   sehingga melibatkan   orang-orang   di suatu  wilayah  tertentu,  yang diikuti  dengan  tidakan• tindakan   kekerasan   dan  destruktif   dengan   berakibat   mendatangkan     kerugian yang  tidak  kecil.

Contoh-contoh     lain:   Prasangka    diskriminasi     ras   yang   berkembang     ULbergolak. Konflik-konflik    antarsuku,   antar  ras tak dapat  dihindarkan.    Lebih  jauh  antara kelompok    minoritas    kulit  putih   dengan   kekuasaan    dan  kekuatan   bersenjata yang  lebih  tangguh,   saling  baku  bantam   dengan   kelompok   mayoritas   orang• orang  kulit  hitam.  Tindak   kekerasan   di Afrika   Selatan  jelas-jelas    merupakan manifestasi   dari  pertentangan    sosial  yang  berlarur-larut.    Tinadakan   kekerasan yang  sudah  diambang   eksplosif   itu, sebagai  akibat  dari  pengendalian    eksternal dari   masing-rnasing     golongan    yang   bertentangan     begitu   lemah.   Grimshaw melukiskan   hubungan     antara    prasangka,      diskriminasi,    ketegangan   dan kekerasan    social.

 

1.1SEBAB SEBAB TMBUL PRASANGKA DAN DISKRIMINASI

1.BERLATAR BELAKANG SEJARAH

Orang-orang kuli putih di Amerika Serikat berprasangka negatif terhadap orang-orang  Negro, berlatar  belakang pada sejarah masa lampau, bahwa orang-orang    kulit   putih   sebagai   tuan   dan  orang-orang    Negro   berstatus sebagai  budak.  Walaupun   reputasi  dan prestasi  orang-orang   Negro  dewasa ini  cukup   dapat   dibanggakan,     terutama    dalam   bidang   olah   raga,   akan tetapi    prasangka     terhadap    orang-orang      Negro    sebagai    biang    keladi kerusuhan    dan  keonaran    belum   sirna   sampai   dengan   generasi-generasi sekarang   ini.

 

2.Dilatarbelakangi oleh  perkembangan     sosio  –  kultural   dan  situasional.

Suatu  prasangka    muncul   dan  berkembang    dari  suatu   individu   terhadap individu   lain,  atau  terhadap    kelompok    sosial   tertentu   manakala    terjadi penurunan    status   atau  terjadi   Pemutusan    Hubungan    Kerja   (PHK)   oleh pimpinan   Perusahaan    terhadap   karyawannya.

Pada  sisi lain prasangka   bisa berkembang   lebih jauh,  sebagai  akibat  adanya jurang    pemisah    antara   kelompok    orang-orang     kaya   dengan    golongan orang-orang    miskin.

Harta   kekayaan   orang-orang    kaya  baru,  diprasangkai    bahwa   harta-harta itu  didapat   dari  usaha-usaha    yang  tidak  halal.

Antara   lain  dari  usaha  korupsi   dan  penyalahgunaan     wewenang    sebagai pejabat   dan  lain  sebagainya..

3.BERSUMBER DARI FAKTOR KEPRIBADIAN

Keadaan    frustrasi    dari   beberapa    orang   atau   kelompok    sosial   tertentu merupakan   kondisi   yang  cukup  untuk  menimbulkan    tingkah   laku  agresif. Para  ahli  beranggapan    bahwa  prasangka   lebih  dominan   disebabkan    tipe• tiepe   kepribadian     orang-orang     tertentu.    Tipe   authoritarian     personality adalah  sebagai  ciri keperibadian    seseorang   yang  penuh  prasangka,   dengan ciri-ciri   bersifat   konservatif    dan  bersifat   tertutup.

 4.BERLATAR BELAKANG DARI PERBEDAAN KEYAKINAN KEPERCAYAAN DAN AGAMA

Bisa  ditambah    lagi  dengan   perbedaan    pandangan    politik,   ekonomi   dan ideologi.    Prasangka    yang   berakar    dari   hal-hal    tersebut    di  atas   dapat dikatakan    sebagai    suatu   prasangka yang   bersifat    universal.    Beberapa diantaranya     :       Konflik    Irlandia    Utara-Irlandia     Selatan,    Konflik    antara golonganb  keturunan   Yunani-Turki   di Cyprus  dan perang  lran-Irak   berakar dari  latar  belakang   adanya  prasangka   agama/kepercayaan     agama.

 

 

1,2 UPAYA UNTUK MENGURANGI/MENGHILANGKAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI

A.PERBAIKAN KONDISI SOSIAL/EKONOMI

Pemerataan  pembangunan   dan usaha peningkatan  pendapatan  bagi warga negara Indonesia  yang masih tergolong  di bawah garis kemiskinan akan mengurangi adanya kesenjangan-kesenjangan  sosial anatar  si kaya dan si miskin.

B.PERLUASAN KESEMPATAN BELAJAR

Adanya  usaha-usaha     pemerintah   dalam  perluasan   kesempatan   belajar bagi   seluruh   warganegara    Indonesia,   paling  tidak  dapat  mengurangi prasangka    bahwa   program   pendidikan,     terutama    pendidikan    tinggi hanya   dapat    dinikmati    oleh   kalangan      masyarakat     menengah    dan kalangan   atas. Mengapa   ‘?  Untuk   mencapai  jenjang   pendidikan   tertentu  di perguruan tinggi    memang    mahal.   disamping      itu  harus   memiliki      kemampuan otak   dan   modal.    Mereka   akan   selalu    tercecar    dan   tersisih     dalam persaingan    memperebutkan     bangku   sekolah.    Masih   beruntung    bagi mereka  yang  memi  Iiki  kemampuan   otak.   Jika  dapat  mencapai  prestasi tinggi  dan dapat  dipertahankan   secara  konsisten,      beasiswa   yang  aneka ragam  itu dapat  diraih  dan  kantongpun   tidak   akan  kering  kerontang. Dengan  memberi  kesempatan   luas  untuk  mencapai    tingkat  pendidikan dari  tingkat  dasar  sampai   perguruan   tinggi   bagi  seluruh  warga  negara Indonesia   tanpa  kecuali,    prasangka  dan perasaan  tidak adil pada  sektor pendidikan    cepat   atau  Iambat    akan  hilang   lenyap..

C.SIKAP TERBUKA DAN LAPANG

Harus  selalu   kita  sadari  bahwa  berbagai   tantangan   yang  datang  dari luar  ataupun   yang  datang   dari  dalam    negeri,    semuanya   akan  dapat merongrong    keutuhan   negara   dan  bangsa.   Kebhinekaan    masyarakat berikut   sejumlah   nilai   yang  melekat,    merupakan     basis    empuk   bagi timbulnya   prasangka,   diskriminasi,     dan keresahan.   Berbagai    ideologi secara  historis   pernah  mendapat   tempat  dan  berkipra di republik   ini, bukan   mustahil    akan  mengambil    manfaat   kemajemukan    kultur,   sta• tus    dan    kelas      masyarakat.      Bukan     mustahil      kalau     mereka memanfaatkan   situasi    berprasangka,     resah,    dan   kemelut.    Apalagi dalam    suasana     transisi     masa   satu   asas,

 

 

  1. ETNOSENTRISME

Setiap suku bangsa atau ras tertentu akan memiliki ciri khas kebudayaan, yang sekaligus menjadi kebanggaan mereka. Suku bangsa, ras tersebut dalam kehidupan  sehari-hari  bertingkah  laku  sejalan  dengan  norma-norma,  nilai• nilai yang terkandung  dan tersirat  dalam kebudayaan  tersebut.

Suku bangsa,  ras  tersebut  cenderung  menganggap  kebudayaan  mereka sebagai salah ssesuatu yang prima, riil, logis, sesuai dengan kodrat alam dan sebaginya. Segala yang berbeda dengan kebudayaan yang mereka miliki, dipandang  sebagai  sesuatu  yang  kurang  baik,  kurang  estetis,  bertentangan dengan kodrat alam dan sebagainya.  Hal-hal tersebut di atas dikenal sebagai ETNOSENTRISME,  yaitu suatu kecendrungan  yang menganggap  nilai-nilai dan norma-norma  kebudayaannya  sendiri sebagai suatu yang prima, terbaik, mutlak,  dan dipergunakannya sebagai  tolak ukur untuk menilai dan membedakannya  dengan kebudayaan  lain.

ILMU SOSIAL DASAR 8 AGAMA DAN MASYRAKAT

mind map bab 9

 

AGAMA DAN MASYARAKAT

Kaitan  agama dengan  masyarakat  banyak  dibuktikan  oleh pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan  sosial,  argumentasi  rasional  tentang  arti  dan hakikat  kehidupan, tentang  Tuhan  dan  kesadaran   akan  maut  menimbulkan   relegi,  dan  sila Ketuhanan  Yang Maha Esa sampai pada pengalaman  agamanya para tasauf.

 

Bukti di atas sampai pada pendapat bahwa agama merupakan tempat mencari  makna  hidup  yang  final  dan  ultimate.  Kemudian,  pada  urutannya agama yang diyakininya merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya, dan kembali kepada konsep hubungan agama dengan masyarakat, di mana pengalaman keagamaan akan terefleksikan pada tindakan sosial, dan individu dengan masyarakat seharusnyalah tidak bersifat antagonis.

Membicarakan  peranan  agama dalam kehidupan  sosial menyangkut  dua hal yang sudah tentu hubungannya erat, memiliki aspek-aspek yang terpelihara. Yaitu pengaruh dari cita-cita agama dan etika agama dalam kehidupan individu dari kelas sosial dan grup sosial, perseorangan dan kolektivitas, dan mencakup kebiasaan dan cara semua unsur asing agama diwarnainya. Yang lainnya juga menyangkut  organisasi  dan fungsi dari lembaga agama sehingga  agama dan masyarakat  itu berwujud  kolektivitas  ekspresi  nilai-nilai  kemanusiaan,

 

1.FUNGSI AGAMA

Agama merupakan salah satu prinsip yang (harus) dimiliki oleh setiap manusia untuk mempercayai Tuhan dalam kehidupan mereka. Tidak hanya itu, secara individu agama bisa digunakan untuk menuntun kehidupan manusia dalam mengarungi kehidupannya sehari-hari. Namun, kalau dilihat dari secara kelompok atau masyarakat

 

2.PELEMBAGAAN AGAMA

Agama    begitu   universal,    permanen    (langgeng),    dan   mengatur    dalam kehidupan,    sehingga    bila   tidak   memahami    agama,   akan   sukar   memahami masyarakat.   Hal yang  perlu  dijawab  dalam  memahami   lembaga  agama  adalah, apa  dan  mengapa   agama   ada,   unsur-unsur    dan  bentuknya    serta   fungsi   dan struktur   agama.

Dimensi   ini   mengindentifikasi    pengaruh-pengaruh     kepercayaan, praktek,  pengalaman,   dan pengeta  huan  keagamaan   di dalam  kehidupan sehari-hari.   Terkandung     makna    ajaran    “kerja”   dalam    pengertian teologis.

Dimensi  keyakinan,  praktek,  pengalaman,   dan pengetahuan   dapat  diterima sebagai  dalil  atau dasar  analitis,  namun  hubungan-hubungan    antara  keempatnya tidak  dapat   diungkapkan    tanpa  data  empiris.. Kaitan  agama  dengan  masyarakat   dapat  mencerminkan   tiga tipe,  meskipun tidak   menggambarkan      sebenarnya    secara   utuh   (Elizabeth    K.  Nottingham, 1954 ) :

 

A.Masyarakat    yang  Terbelakang    dan  Nilai-nilai    Sakral

Masyarakat   tipe ini kecil,  terisolasi,   dan terbelakang.   Anggota  masyarakat menganut  agama yang sama. Oleh karenanya  keanggotaan  mereka dalam masyarakat     dan   dalam    kelompok   keagamaan   adalah    sama.    Agama menyusup   ke  dalam   kelompok   aktivitas   yang  Iain.  Sifat-sifatnya     :

1) Agama  memasukkan    pengaruhnya    yang  sakral  ke dalam  sistem  nilai masyarakat    secara   mutlak.

2)Dalam     keadaan    lembaga    lain    selain     keluarga    relatif     belum berkembang,    agama  jelas  menjadi   fokus  utama  bagi  pengintegrasian dan   persatuan    dari   masyarakat    secara   keseluruhan.     Dalam   hal  ini nilai-nilai agama sering meningkatkan konservatisme dan menghalang perubahan.

 

B.Masyarakat-masyarakat       Praindustri    yang  Sedang   Berkembang.

Keadaan  masyarakatnya    tidak  terisolasi,   ada perkembangan    teknologi yang   Iebih   tinggi   daripada    tipe  pertama.    Agama   memberikan    arti  dan ikatan   kepada   sistem   nilai  dalam   tiap  masyarakat  ini,  tetapi   pada   saat yang   sama   lingkungan   yang   sakral    dan     yang   sekular    itu   sedikit• banyaknya   masih   dapat   dibedakan.   Fase-fase   kehidupan   sosial   diisi dengan  upacara-upacara  tertentu.   Di lain  pihak,  agama  tidak  memberikan dukungan    sempurna   terhadap    aktivitas    sehari-hari:    agama    hanya memberikan  dukungan   terhadap adat-istiadat,  dan  terkadang  merupakan suatu  sistem  tingkah  laku  tandingan   terhadap   sistem  yang  telah  disahkan. Nilai-nilai  keagamaan  dalam   masyarakat  menempatkan  fokus  utamanya pada  pengintegrasian  kaitan   agama  dengan   masyarakat.  Tugas   ini  tidak mudah   sebab   agama   lebih   tahan   terhadap  kajian   ilmiah   dibandingkan dengan    adat   dan   kebiasaan.    Hal   ini  disebabkan   oleh   dua   hal,   yaitu pandangan  yang   emosional  dan  fikiran   yang  bias  (rational  bias).

 

Agama   melalui   wahyunya   atau  kitab  sucinya   memberikan    petunjuk kepada   manusia   guna  memenuhi    kebutuhan    mendasar,   yaitu   selamat    di dunia  dan  selamat   di  akhirat.   di  dalam    perjuangannya    tentu  tidak  boleh lalai.   Untuk   kepentingan    tersebut   perlu  jaminan   yang  memberikan  rasa aman  bagi   pemeluknya.      Maka  agama   masuk  dalam   sistem    kelembagaan dan   menjadi    sesuatu    yang   rutin.    Agama    menjadi    salah    satu   aspek kehidupan   semua  kelompok    sosial,  merupakan   fenomena   yang  menyebar mulai   dari  bentuk  perkumpulan    manusia,   keluarga,   kelompok    kerja,  yang dalam    beberapa   hat   penting   bersifat    keagamaan.

Bermula   dari  para  ahli  agama    yang  mempunyai   pengalaman     agama dan  adanya  fungsi  deferensiasi     internal   dan  stratifikasi   yang  ditimbulkan oleh   perkembangan     agama,   maka  tampillah   organisasi    keagamaan    yang terlembaga   dan fungsinya   adalah   mengelola     masalah   keagamaan.   Adanya organisasi   keagamaan   ini,   meningkatnya      pembagian    kerja  dan  spesifikasi fungsi.   memberikan     kesempatan    untuk  memuaskan    kebutuhan   ekspresif dan  adatif.

Pengalaman        tokoh    agama    dan   juga    merupakan      pengalaman kharismatik,   akan  melahirkan   suatu  bentuk  perkumpulan   keagamaan,   yang kemudian   menjadi   organisasi    keagamaan    terlembaga.      Pengunduran    diri atau  kematian   figur  kharismatik,     akan  melahirkan    krisis   kesinambungan. Analisis    yang  perlu adalah   mencoba  memasukkan   struktur  dan pengalaman agama.   sebab  pengalaman    agarna,  apabila  dibicarakan,    akan  terbatas  pada orang   yang   mengalaminya.       Hal    penting    adalah    mempelajari     “wahyu” atau   kitab   sucinya,     sebab   lembaga     keagamaan  itu  sendiri    merupakan refleksi   dari  pengalaman     ajaran   wahyunya

 

Lembaga-lembaga     keagamaan   pada  puncaknya   berupa   peribadatan, pola   ide-ide    dan  keyakinan-keyakinan,     dan  tampil   pula  sebagai    asosiasi atau   organisasi.     Misalnya     pada   kewajiban  ibadah   haji    dan  munculnya organisasi    keagamaan

BAB 8 ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, DAN KEMISKINAN

mind map bab 8

ILMU  PENGETAHUAN,   TEKNOLOGI,   DAN  KEMISKINAN

1.ILMU PENGETAHUAN

Di kalangan ilmuwan ada keseragaman  pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, rasional/logis,  empiris, umum, dan akumulatif. Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana  karena  bermacam-macam  pandangan  dan teori  (epistemologi),  di antaranya pandangan Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi.

2.TEKNOLOGI

Dalam  konsep  yang  pragmatis   dengan  kemungkinan   berlaku   secara akademis dapatlah dikatakan, bahwa ilmu pengetahuan (body of knowledge), dan teknologi  sebagai suatu seni (state of art) yang mengandung  pengertian berhubungan dengan proses produksi; menyangkutcara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal,  tenaga kerja dan keterampilan  dikombinasikan  untuk merealisasi tujuan produksi. “Secara konvensional mencakup penguasaan dunia fisik dan biologis,  tetapi secara luas juga  meliputi teknologi  sosial, terutama teknologi sosial pembangunan (the social technology of development) sehingga teknologi itu adalah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani.” (Eugene  Staley,  1970).

Teknologi  memperlihatkan  fenomenanya  dalam masyarakat  sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis. Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul “The Tech• nological Society” (1964) tidak mengatakan teknologi tetapi teknik, meskipun arti atau maksudnya sama. Menurut Ellul istilah teknik digunakan tidak hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk memperoleh hasilnya, melainkan totalitas motode yang dicapai secara rasional dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan  tingkat  perkembangan)  dalam  setiap bidang  akti.vitas manusia. Batasan ini bukan bentuk teoritis, melainkan perolehan dari aktivitas masing• masing dan ob=ervasi fakta dari  apa yang disebut  manusia  modern di&ugan perlengkapan  tekniknya.  Jadi  teknik  menurut  Ellul  adalah  berbagai  usaha, metode dan earn untuk memperoleh basil yang sudah distandardisasi dan diperhitungkan  sebelumnya.

Fenomena  teknik  pada masyarakat  kini,  menurut  Sastrapratedja  ( 1980) memiliki  ciri-ciri  sebagai berikut :

1.Rasionalitas, artinya tindakan spontak oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan  dengan perhitungan  rasional
2.Artifisialitas, artinya selalu   membuat   sesuatu   yang   buatan   tidak alamiah.
3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksankaan serba otomatis. Demikian pula dengan teknik mampu mengelimkinasikan kegiatan non-teknis menjadi kegiatan teknis.
4.Teknis   berkembang    pada   suatu  kebudayaan
5.Monisme,    artinya   semua   teknik   bersatu,    saling   berinteraksi    dan  saling bergantung.
6.Universalisme,     artinya   teknik   melampaui    batas-batas    kebudayaan     dan ediologi,   bahkan   dapat   menguasai   kebudayaan.
7.Otonomi,   artinya   teknik   berkembang    menurut   prinsip-prinsip     sendiri.

3.ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN NILAI

Ilmu pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan dengan nilai atau moral. Hal ini besar perhatiannya tatkala dirasakan dampaknya melalui kebijaksanaan pembangunan, yang pada hakikatnya adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penerapan ilmu pengetahuan khususnya teknologi sering kurang memperhatikan  masalah  nilai, moral atau segi-segi  manusiawinya.  Keadaan demikian tidak luput dari falsafah pembangunannya  itu sendiri, dalam menentukan  pilihan  antara  orientasi  produksi  dengan  motif  ekonomi  yang kuat, dengan orientasi nilai yang menyangkut segi-segi kemanusiaan yang terkadang  harus  dibayar  lebih mahal.

Ilmu   dapatlah    dipandang    sebagai   produk,   sebagai   proses,   dan  sebagai paradigma   etika  (Jujun  S. Suriasumantri,    1984 ).  Ilmu dipandang   sebagai  proses karena   ilmu  merupakan    hasil  darikegiatan    sosial,   yang  berusaha   memahami alam,  manusia   dan  perilakunya    baik  secara   individu   atau  kelompok.

Apa   yang   dihasilkan   oleh   ilmu   pengetahuan      seperti    sekarang     ini, merupakan   hasil  penalaran   (rasio)  secara  objektif.   Ilmu  sebagai  produk  artinya ilmu  diperoleh   dari  hasil  metode   keilmuwan    yang  diakui   secara   umum   dan universal   sifatnya.    Oleh  karena   itu  ilmu  dapat  diuji  kebenarannya,    sehingga tidak  mustahil   suatu  teori  yang  sudah  mapan   suatu  saat  dapat  ditumbangkan oleh  teori   lain.  Ilmu   sebagai   ilmu,    karena   ilmu   selain   universal,    komunal, juga   alat   menyakinkan     sekaligus    dapat   skeptis,    tidak   begitu    saja   mudah menerima   kebenaran.

Ilmu pengetahuan   pada dasarnya  memiliki  tiga komponen  penyangga  tubuh pengetahuan    yang  disusunnya   yaitu:   ontologis,   epistemologis    dan  aksiologis. Epistemologis    seperti  diuraikan   di muka,  hanyalah   merupakan   cara  bagaimana materi     pengetahuan      diperoleh      dan    disusun       menjadi       tubuh     pengetahuan. Ontologis   dapat   diartikan     haklikat    apa  yang   dikaji    oleh    pengetahuan,      sehingga jelas    ruang     lingkup     wujud    yang   menjadi     objek    penelaahannya.      Atau   dengan kata  lain  ontologis     merupakan     objek   formal    dari   suatu   pengetahuan.       Komponen Aksiologis     adalah     asas   menggunakan     ilmu   pengetahuan      atau   fungsi    dari   ilmu pengetahuan.      Ketiga   komponen     ontologis,     epistemologis       dan  aksiologis      tersebut erat   kaitannya    dengan     nilai    atau   nilai    moral.

4.KEMISKINAN

Kemiskinan  lazimnya  dilukiskan  sebagai  kurangnya  pendapatan  untuk memenuhi    kebutuhan    hidup   yang   pokok.   dikatakan    berada   di  bawah   garis kemiskinan   apabila  pendapatan   tidak  cukup  untuk  memenuhi   kebutuhan   hidup yang  paling  pokok  seperti   pangan,  pakaian,   tempat  berteduh,   dll.

Kemiskinan    merupakan    tema   sentral   dari    perjuangan    bangsa,    sebagai inspirasi   dasar  dan  perjuangan    akan  kemerdekaan    bangsa,   dan  motivasi   fun• damental   dari  cita-cita   menciptakan    masyarakat    adil  dan  makmur.

Garis   kemiskinan,    yang   menentukan    batas    minimum    pendapatan    yang diperlukan   untuk  memenuhi   kebutuhan   pokok,   bisa  dipengaruhi    oleh  tiga  hal:

1.persepsi    manusia   terhadap    kebutuhan    pokok   yang   diperlukan,
2. posisi  manusia   dalam  lingkungan   sekitar,  dan
3. kebutuhan   objektif   manusia untuk   bisa  hidup    secara   manusiawi

Persepsi  manusia  terhadap  kebutuhan   pokok  yang  diperlukan   di pengaruhi oleh  tingkat   pendidikan,    adat-istiadat,   dan  sistem   nilai  yang  dimiliki.   Dalam hal  ini  garis  kemiskinan    dapat  tinggi   atau  rendah.   Terhadap    posisi    manusia dalam   lingkungan    sosial,  bukan  ukuran   kebutuhan    pokok  yang  menentukan

Atas dasar  ukuran  ini maka  mereka  yang  hidup  di bawah  garis  kemiskinan memiliki   ciri-ciri   sebagai   berikut   :

1.tidak  memiliki  faktor  produksi   sendiri  seperti   tanah,  modal,  keterampilan, dsb.
2.tidak   memiliki   kemungkinan    untuk  memperoleh   asset  produksi  dengan kekuatan   sendiri.   seperti    untuk   memperoleh  tanah   garapan   atau  modal usaha:
3.tingkat   pendidikan  mereka   rendah,   tidak   sampai    tamat   sekolah  dasar karena   harus   membantu   orang    tua  mencari   tambahan  penghasilan
4.kebanyakan   tinggal    di  desa   sebagai    pekerja     bebas   self   employed), berusaha  apa  saja;
5.banyuk    yang    hidup    di   kota   berusia     muda,    dan   tidak    mempunyai keterampilan

Kemiskinan   menurut  orang  lapangan  (umum)  dapat  dikategorikan   kedalam tiga unsur:

(1)  kemiskinan   yang  disebabkan   handicap  badaniah  ataupun  mental seseorang,
(2)   kemiskinan   yang   disebabkan     oleh   bencana  alam,   dan
(3) kemiskinan    buatan.   Yang  relevan   dalam   hal  ini  adalah   kemiskinan  buatan, buatan  manusia terhadap manusia  pula yang disebut  dengan  kemiskinan struktural.ltulah    kemiskinan   yang timbul  oleh dan dari struktur-struktur (buatan manusia),   baik  struktur   ekonomi,  politik,   sosial,   maupun   kultur Kemiskinan   buatan  ini,  selain  ditimbulkan oleh  struktur ekonomi, politik, sosial, dan kultur, jgua dimanfaatkan oleh sikap “penenangan” atau “nrimo”, memandang   kemiskinan   sebagai    nasib,    malahan   sebagai    takdir    Tuhan.

Kemiskinan     menjadi    suatu    kebudayaan     (culture    of  provierty)     atau   suatu subkultur,    yang   mempunyai    struktur   dan   way   of  life   yang   telah   menjadi turun-ternurun     melalui   jalur   keluarga.    Kemiskinan    (yang   membudaya)     itu disebabkan     oleh   dan   selama   proses   perubahan    sosial   secara   fundamental, seperti   transisi   dari   feodalisme    ke  kapitalisme,     perubahan    teknologi    yang cepat,  kolonialisme,   dsb. Obatnya  tidak  lain adalah  revolusi  yang  sama  radikal dan  meluasnya.

Pola  relasi   dari  struktur   ini, yang  urgen  adalah  struktur   dalam  soal  sosial• ekonomi   meskipun    struktur   lainnya   mcnentukan.    Pola  relasi   dalam   struktur sosial  ekonomi   ini  dapat   diuraikan   sebagai    berikut   :

1.Pola  relasi   antara  manusia   (subjek)   dengan    sumber-sumber     kemakmuran ekonomi   seperti   alat-alat   produksi,   fasilitas-fasilitas      negara,   perbankan, dan  kekayaan    sosial.    Apakah   ini  dimiliki,   disewa,    bagi-hasil,    gampang atau  sulit  bagi  atau  oleh  subjek   tersebut.
2.Pola   relasi   antara  subjek   dengan  hasil  produksi.    Ini menyangkut    masalah distribusi    basil,   apakah   memperoleh    apa  yang  diperlukan      sesuai   dengan kelayakan    derajat   hidup    manusiawi.
3.Pola  relasi   antara  subjek  atau kornponen-komponen     sosial-ekonomi    dalam keseluruhan    mata  rantai   kegiatan   dengan   bantuan   sistem   produksi

Dalam   hal    iniadalah    mekanisme    pasar,    bagaimana     posisi    dan  peranan manusia    sebagai   subjek   dalam    berfungsinya    mekanisme    tersebut.

Secara   analog   dapat  ditentukan   pola-pola   relasi   dalam  bidang   ekonomi. Kesemuanya     merupakan    substruktur    atau  subsistem   dari  struktur   dan  sistem kemasyarakatan     yang  berlaku   yangm   endasari   masalah-masalah     kemiskinan. Dengan      demikian      kemiskinan       berkaitan     langsung      dengan      sistem kemasyarakatan     secara   menyeluruh,    dan  bukan  hanya  masalah   ekonomi   atau politik   atau   sosial-budaya.     Maka   penanganannya     hams   berlangsung    secara komprehensif,   dengan  suatu  strategi  yang  mengandung   kaitan-kaitan   dari semua aspek    dan   perikehidupan     manusiawi.       Bisa    dimulai   dengan     resep    ekonomi, kemudian    ditunjang    oleh    tindakan    sosial     dan    politis     yang    nyata,     dengan intervensi     pemerintah   dan  kesadaran     manusia  miskin    itu  sendiri,   tidak   bersikap nrimo    dan   tidak   bersikap   neglect    atau   tidak    mau   tahu   tentang     kemiskinan

Kalau   kita   menganut   teori   fungsionalis     dari   statifikasi     (tokohnya   Davis), maka    kemiskinanpun     memiliki    sejumlah     fungsi    yaitu

1.Fungsi ekonomi : penyediaan tenaga untuk pekerjaan tertentu
2.Fungsi    sosial  : menimbulkan    altruisme   (kebaikan   spontan)    dan   perasaan, sumber    imajinasi   kesulitan     hidup   bagi si  kaya,    sebagai    ukuran    kemajuan bagi    kelas     lain    dan   merangsang       munculnya    badan    amal
3.Fungsi    kultural :       sumber     inspirasi       kebijaksanaan      teknokrat    dan   sumber inspirasi       sastrawan      dan    memperkaya     budaya     saling      mengayomi     antar sesama     manusia.
4.Fungsi politik : berfungsi      sebagai     kelompok    gelisah     atau    masyarakat marginal   untuk    musuh      bersaing     bagi   kelompok    lain.

Walaupun kemiskinan mempunyai fungsi,bukan berarti menyetujui lembaga tersebut.Tetapi, karena kemiskinan berfungsi maka harus dicarikan fungsi lain sebagai pengganti.

,
.

BAB 6 PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT

ARYA

1.PELAPISAN SOSIAL

A. PENGERTIAN

Masyarakat terbentuk dari individu-individu. Individu-individu yang terdiri dari berbagai latar belakang tentu akan membentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Dengan adanya atau terjadinya kelompok sosial ini maka terbentuklah suatu pelapisan masyarakat atau terbentuklah masyarakat yang berstrata.

Masyarakat merupakan suatu kesatuan yang didasarkan ikatan-ikatan yang sudah teraturdan bolehdikatakan stabil. Sehubungandengan ini. makadengan sendirinya masyarakat merupakan kesatuan yang dalam pembentukannya mempunyai gejala yang sama.

B. PELAPISAN SOSIAL CIRI TETAP KELOMPOK SOSIAL

Pembagian dan pemberian kedudukan yang berhubungan dengan jenis kelamin nampaknya menjadi dasar dari seluruh sistem sosial masyarakat kuno. Seluruh masyarakat memberikan sikap dan kegiatan yang berbeda kepada kaum laki-laki dan perempuan. Tetapi hal ini perlu diingat bahwa ketentuan­ketentuan tentang pembagian kedudukan antara laki‘”laki dan perempuan yang kemudian menjadi dasar daripada pembagian pekerjaan, semata-mata adalah ditentukan oleh sistem kebudayaan itu sendiri.

kita lihat saja misalnya kedudukan laki-laki di Jawa berbeda dengan kedudukan laki-laki di Minangkabau. Di Jawa kekuasaan keluarga di tangan ayah sedang di Minangkabau tidak demikian. Dalam hubungannya dengan pembagian pekerjaan pun setiap suku bangsa memiliki Cara sendiri-sendiri. Di Irian misalnya atau di Bali. wanita barns lebih bekerja keras daripada laki- laki.

C. TERJADINYA PELAPISAN SOSIAL

Terjadi dengan sendirinya

Proses ini berjalan sesuai dengan pertumbuhanmasyarakat itu sendiri. Adapun orang-orang yang menduduki lapisan tertentu dibentuk bukan berdasarkan alas kesengajaan yang disusun sebelumnya oleh masyarakat itu, tetapi berjalan secara alamiah dengan sendirinya. pengakuan-pengakuan terhadap kekuasaan dan wewenang tumbuh dengan sendirinya. Oleh Karena sifatnya yang tanpa disengaja inilah maka bentuk lapisan dan dasar dari pada pelapisan itu bervariasi menurut tempat, waktu dan kebudayaan masyarakat di mana sistem itu berlaku.

-Terjadi dengan disengaja

Sistem pelapisan yang disusun dengan sengaja ditujukan untuk mengejar tujuan bersama. Di dalam sistem pelapisan ini ditentukan secara jelas dan tegas adanya wewenang dan keuasaan yang diberikan kepada seseorang. Dengan adanya pembagian yang jelas dalam hal wewenang dan kekuasaan ini maka di dalam organisasi itu terdapat keteraturan sehingga jelas bagi setiap orang di tempat mana letaknya kekuasaan dan wewenang yang dimiliki dan dalam suatu organisasi baik secara vertikal maupun secara horisontal.

Sistem pelapisan yang dibentuk dengan sengaja ini dapat kita lihat misalnya di dalam organisasi pemerintahan, organisasi partai politik, perusahaan besar, perkumpulan-perkumpulan resmi, dan lain-lain. Pendek kata di dalam organisasi formal. Di dalam sistem organisasi yang disusun dengan Cara ini mengandung dua sistem, ialah :

I ) Sistem fungsional; merupakan pembagian kerja kepada kedudukan yang tingkatnya berdampingan dan barns bekerja sama dalam kedudukan yang sederajat, misalnya saja di dalam orgaanisasi perkantoran ada kerja sama antara kepala-kepala seksi dan lain-lain.

2) Sistem skalar: merupakan pembagian kekuasaan menurut tangga atau jenjang dari bawah ke alas (vertikal).

Pembagian kedudukan ini di dalam organisasi formal pada pokoknya diperlukan agar organisasi itu dapat bergerak secara teratur untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tetapi sebenarnya terdapat pula kelemahan yang disebabkan sistem yang demikian itu.

2. KESAMAAN DERAJAT

Sifat perhubungan antara manusia dan lingkungan masyarakat pada umumnya adalah timbal balik, artinya orang seorang itu sebagai anggota masyarakatnya, mempunyai hak dan kewajiban, baik terhadap masyarakat Waupun terhadap pemerintahdan negara. Beberapa hakdan kewajiban penting

ditetapkandalam Undang-undang (konstitusi) sebagai hakdan kewajiban asasi. Untuk dapat melaksanakana hak dan kewajiban ini dengan bebas dart rasa takut perlu adanya jaminan, dan yang mampu memberi jaminan ini adalah

pemerintah yang kuatdan berwibawa. Didalam susunan negara modern hak­hak dan kebebasan-kebebasan asasi manusia itu dilindungi oleh Undang­undang dan menjadi hukum positif. Undang-undang tersebut berlaku sama pada setiap orang tanpa kecualinya dalam arti semua orang mempunyai kesamaan derajat dan ini dijamin oleh undang-nndang. Kesamaan derajat ini terwujuddalam jaminan hak yangdiberikan dalam berbagai sektor kehidupan. Hak inilah yang banyak dikenal dengan Hak Asasi Manusia.

1)PERSAMAAN HAK

Adanya kekuasaan negara seolah-olah hak individu lambat-laun dirasakan sebagai suatu yang mengganggu, Karena di mana kekuasaan negara itu berkembang, terpaksalah ia memasuki lingkungan hak manusia pribadi dan berkuranglah pula luas batas hak-hak yang dimiliki individu itu. Dandi sinilah timbnl persengketaan pokok antara dua kekuasaan itu seeara porinsip, yaitu kekuasaan manusia yang berwujud dalam hak” hak dasar beserta kebebasan asasi yang selama itudimilikinyadengan leluasa,dan kekuaasaan yang melekat pada organisasi barn dalam bentuk masyarakat yang merupakan negara tadi.

2)PERSAMAAN DERAJAT DI INDONESIA

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 mengenai hak dan kebebasan yang berkaitan dengan adanya persamaan derajat dan hak juga tercantum dalam pasal-pasalnya secarajelas. Sebagaimana kita ketahui Negara Republik Indo­nesia menganut asas bahwa setiap warga negara tanpa kecualinya memiliki kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan, dan ini sebagai konsekuensi prinsip dari kedaulatan rakyat yang bersifat kerakyatan.

Hukum dibuat dimaksudkan untuk melindungi dan mengatur masyarakat secara umum tanpa adanya perbedaan. Kalau kita lihat ada empat pasal yang memuat ketentuan-ketentuan tentang hak-hak asasi itu yakni pasal 27, 28, 29 dan 31

Di dalam perumusan ini dinyatakan adanya suatu kewajiban dasar di samping hak asasi yang dimiliki oleh warga negara. yaitu kewa,jiban untuk menjunjung hukumdan pemerintahan itudengan tidak ada kecualinya. Dengan demikian perumusan ini secara prinsipil telah membuka suatu sistem yang berlainan sekalidaripada sistem perumusan .‘Human Rights” itu secara Halal, hanya menyebutkan hak tanpa ada kewajiban di sampingnya.

3. ELITE DAN MASSA

1.Pengertian ELITE :

Dalam pengertian yang umum elite itu menunjuk sekelompok orang yang dalam masyarakat menempati kedudukan tinggi. Dalam arti lebih yang khusus dapat diartikan sekelompok orang terkemuka di bidang-bidang tertentu dan khususnya golongan kecil yang memegang kekuasaan.

Dalam Cara pemakaiannya yang lebih umum elite dimaksudkan: ” posisi di dalam masyarakat di puncak struktur-struktur sosial yang terpenting, yaitu posisi tinggi di dalam ekonomi, pemerintahan aparat kemiliteran, politik, agama, pengajaran, dan pekerjaan-pekerjaan dinas” .

Tipe masyarakat dan sifat kebudayaan sangat menentukan watak elite. Dalam masyarakat industri watak elitenya berbeda sama sekali dengan elite di dalam masyarakat primitif.

Di dalam suatu lapisan masyarakat lento ada sekelompok kecil yang mempunyai posisi kunci ataumereka yang memiliki pengaruh yang besar dalam mengambil berbagai kebijaksanaan. mereka itu mungkin para pejabat togas, ulama, guru, petani kaya, pedagang kaya, pensiunan dan lainnya lagi.

Para pemuka pendapat (opinion leader) inilah pada umumnya memegang strategi kunci dan memiliki status tersendiri yang akhimya merupakan elite masyarakatnya.

2) PENGERTIAN MASSA

Istilah massa dipergunakan untuk menunjukkan suatu pengelompokkan kolektif lain yang elementer dan spontan, yang dalam beberapa hal menyerupai crowd, tapi yanag secara fundamental berbeda dengannya dalam hal-hal yang lain.

4.PEMBAGIAN PENDAPATAN

Pada dasarnya dalam kehidupan ekonomi itu. hanya ada dua kelompok, yaitu rumah tangga produsen dan rumah tangga konsumen. Dalam rumah tangga produsen dilakukan proses produksi. Pemilik faktor produksi yang telah menyerahkan atau mengikutsertakan faktor produksinya ke dalam proses produksi akan memperoleh balas jasa. Pemilik alam (tanab) akan memperoleh sewa. Pemilik tenaga akan memperoleh upah. Pemilik modal akan memperoleh bunga dan pengusaha (skill) akan memperoleh keuntungan.

Semua hulas jasa yang diterima oleh pemilik faktor produksi tersebut merupakan pendapatan nasional. Dan besar kecilnya sangat tergantung dari peranan atau penting tidaknya faktor produksi tersebut. Selain itu. juga dipengaruhi oleb sistem distribusi dan redistribusi yang berlaku.

Pedagang yang melakukan jasa berupa menjual basil pertanian yang telah dibelinya, daridesa ke kota, akan memperoleh hulas jasa berupa: keuntungan, upah Karena telah mengangkutnya kc kota, bunga modal Karena mengikutsertakan modalnya dalam perdagangan. Sedangkan sewa tanahnya yang berupa retribusi pasar dibayarkan kc pemerintah. Demikian prosesnya, untuk semua proses produksi.